MENJADI MANUSIA WAJIB DAN BUKAN MANUSIA HARAM MENURUT GUS ROMY.

Dibuat pada Sabtu, 06 Agustus 2016

PURBALINGGA – Bupati Purbalingga Tasdi, Ketua DPRD Kabupaten Purbalingga Tongat, unsur Forkompimda, Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga dan sejumlah pejabat SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Purbalingga menghadiri Silaturahmi dan halalbihalal keluarga besar Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bersama Ketua Umum PPP Ir. H.M. Romahurmuziy, MT. atau dikenal dengan gus Romy pada Sabtu siang (06/08) di Gedung Dekopinda Purbalingga.

Bupati Purbalingga Tasdi berharap, sinergitas yang baik antara Pemerintah dengan partai politik terus dijaga dalam kontribusinya mendukung kebijakan pembangunan Purbalingga.  Kemudian kepada gus Romy, Bupati Tasdi menyampaikan permohonan dukungan dan bantuannya dari PPP bagi pembangunan Purbalingga khususnya dalam mewujudkan masyarakat yang berakhlakul karimah.

Silaturahmi dihadiri pula sejumlah Pengurus Partai Politik dan ormas yang ada di Kab. Purbalingga dan juga seluruh anggota PAC, MPC dan kader PPP Purbalingga. Menurut Ketua DPC PPP Purbalingga Nurul Hidayah, kedatangan Ketum PPP gus Romy adalah bentuk penghargaan tinggi bagi DPC PPP Purbalingga. Nurul juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran Bupati Purbalingga Tasdi dan segenap pejabat yang hadir dan hal tersebut menurutnya adalah bentuk komunikasi yang baik antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat khususnya dengan partai politik.

Sementara itu Ketum PPP gus Romy mengapresiasi kinerja Bupati Purbalingga Tasdi dengan berbagai kebijakan pembangunannya terutama untuk pembangunan akhlak masyarakatnya. Dalam sambutannya, gus Romy menyampaikan pesan melalui taksonomi atau pembagian manusia menjadi 5 (lima) golongan yaitu manusia wajib, yaitu manusia yang kehadirannya dirindukan karena selalu bisa menyelesaikan persoalan, dan perginya membatalkan persoalan.

Kedua manusia sunnah, yaitu manusia  yang kehadirannya memudahkan persoalan dan perginya menyulitkan persoalan, kemudian ketiga manusia mubah, yaitu manusia yang kehadirannya maupun kepergiannya tidak berarti apa-apa, kemudian keempat manusia makruh yaitu manusia yang kehadirannya merepotkan dan kepergiannya disenangi, kelima adalah manusia haram yaitu manusia yang kehadirannya membuat kehancuran dan kepergiannya menjadikan kedamaian.

“Semoga kita termasuk manusia wajib, sekurang kurangnya sunnah, bukannya manusia mubah, makruh apalagi manusia haram, yang hanya menjadikan kehancuran di dunia,” kata gus Romy. (taufiq.h).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *